Air Virtual

Air virtual kurang lebih diartikan sebagai jumlah air yang dibutuhkan untuk memproduksi bahan makanan, seperti padi, sayur-sayuran, buah-buahan dan sebagainya, sejak pembibitan hingga dipanen untuk kemudian dikonsumsi. Hitung-hitungan para ahli tanaman itu, kini digunakan sebagai acuan para kapitalis pedagang air dunia untuk lebih memberi nilai pada air.


Petani di Andong, Boyolali, ini berpikir bahwa hanya dengan bercocok tanam pada, keluarga mereka bisa makan, meski para ahli tanaman menganggap perilaku bertani itu sama saja dengan tindakan mengekploitasi air

Kesimpulannya, tanaman pangan rata-rata menyerap air jauh lebih banyak daripada kebutuhan manusia untuk hidup sehari-hari, seperti untuk minum maupun keperluan mandi dan sanitasi. Mendasarkan pada menipisnya cadangan air dunia, kini banyak orang beramai-ramai memikirkan bagaimana usaha menghemat air. Sebuah pemikiran mulia andaikata kaum miskin dan orang tak berpunya benar-benar terbukti telah diposisikan sebagai pihak yang harus memperoleh prioritas pertama.

Yang umum terjadi, para pedagang air dunia telah berkolusi dengan lintah darat berwajah malaikat seperi IMF, World Bank, ADB dan sebagainya. Lembaga-lembaga ini, lebih sering menempatkan diri sebagai fasilitator para mafia air terutama di negara-negara sedang berkembang. Utang digelontorkan terus ke PDAM-PDAM tanpa melalui pertimbangan potensi dan kemampuan membayar utangnya. Targetnya, bila utang itu kemudian default, maka masuklah para mafia air untuk mengakuisisi PDAM.

Simak saja perdebatan yang muncul dalam 4th World Water Forum di Mexico, 16-22 Maret ini. Pasti, pemikiran mantan bos IMF Michel Camdessus akan mendominasi agenda konferensi yang dipenuhi para broker, lintah darat hingga boneka-boneka kapitalis seperti para menteri urusan air. Camdessus Paper yang diperkenalkan sejak konferensi serupa di Kyoto, 2003, antara lain berisi skema pembiayaan (dengan utang) dalam rangka ‘pengaturan’ distribusi air.

Leave a Reply