Di Balik Layar

Setiap pemain harus memiliki ketrampilan merias diri

Tak jemu menggeber promosi, berulangkali menggelar pertunjukan dengan bintang tamu artis-artis dan pejabat tak kunjung mendongkrak pamor Wayang Orang Sriwedari. Kejayaan wayang orang telah berakhir sejak paruh kedua 1980-an, ketika beragam jenis hiburan modern marak di Solo, Jawa Tengah. Masuknya seniman-seniman muda dari Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta ke kelompok itu, pun seolah tak berarti

PENUANGAN - Pemain menerima arahan dari sutradara berupa garis-garis besar adegan dan kunci-kunci pergantian adegan

Enam kali seminggu (kecuali hari Minggu) pertunjukan berlangsung, tak genap 50 pengunjung mampu dicatatkan. Padahal, tiket termahal hanya Rp 3.000 untuk menyaksikan pertunjukan berdurasi 90 menit hingga 180 menit, dengan fasilitas kursi empuk dengan gedung berpendingin ruangan

Setiap pemain harus menyimak pergantian adegan, dan cukup menunggu di samping panggung

Andai 70-an seniman tari dan karawitan yang bekerja di sana tak berstatus pegawai negeri dan karyawan kontrak (di bawah naungan Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya), boleh jadi mereka sudah beralih profesi, entah apa. Pemasukan dari tiket, tentu tak layak bila harus dibagi rata sebagai honor. Untuk menyalakan lampu panggung modern berkekuatan 50 ribu watt lebih yang diperoleh dari hibah Pemerintah Jepang pun, jauh dari mencukupi

Seorang anak serius menyaksikan akting sang ayah

Beruntung, para seniman Wayang Orang Sriwedari masih memiliki dedikasi, sehingga jenis kesenian Jawa itu tak lekas masuk catatan sejarah….

Setiap pemain harus tahu garis besar materi dialog. Pembagian babak pun cukup dibaca pada sebuah papan


One thought on “Di Balik Layar

  1. “Setiap pemain harus tahu garis besar materi dialog. Pembagian babak pun cukup dibaca pada sebuah papan”

    Luar biasa sekali, Pak Dhe. Tentunya dibutuhkan daya ingat yang kuat

Leave a Reply