Kontrabass

Wawan Sofwan adalah aktor tulen. Ia mematangkan talenta keaktorannya di Studiklub Teater Bandung (STB), sebuah kelompok teater yang pamornya dan reputasinya belum tertandingi dalam hal penyutradaraan naskah-naskah realis. Dari bekal itu, kini ia memilih mengembangkan format pertunjukan ‘serba tunggal’ seperti monolog, monoplay atau drama-reading lewat MainTeater, sebuah organisasi ramping yang terdiri para penggiat seni pertunjukan, khususnya teater di Bandung.

Kontrabass di Goethe Institut, Jakarta, Maret 2004

Kontrabass di Goethe Institut, Jakarta, Maret 2004

Kontrabass hanyalah salah satu dari sekian karya pertunjukan yang disutadarai sekaligus dimainkannya sendiri, tak terbatas di Bandung dan Jakarta, namun hingga ke beberapa pusat kesenian di Eropa. Pertunjukan yang mengangkat karya Patrick Süßkind berjudul Der Kontrabass di GoetheHaus, Jakarta 9 Maret 2004 lalu, merupakan salah satu unjuk kemampuan Wawan dalam akting tragikomedi tentang sosok lelaki pecundang.

Kontrabass di Goethe Institut, Jakarta, Maret 2004

Kontrabass di Goethe Institut, Jakarta, Maret 2004

Kontrabass, berkisah tentang sosok musisi yang memainkan kontrabass dalam sebuah kelompok orkestra dengan latar belakang Jerman tempo dulu. Lelaki itu, piawai membawakan komposisi karya Mozart, Beethoven, Schubert dan banyak lagi, seperti Cosi van tutte atau semacam Symphony no. 5. Tapi, ada konflik pada dirinya, yang mencintai Sarah, seorang penyanyi sopran di kelompoknya. Harga dirinya terusik, karena ia merasa perannya sebagai pemain kontrabass tak diperhitungkan. Sementara ia berkeyakinan, harmoni sebuah orkestrasi menjadi mustahil bila terdapat penyimpangan dari salah satu atau lebih instrumen musik yang dimainkan.

3 thoughts on “Kontrabass

Leave a Reply