Mahalnya Air

Bagi delapan keluarga (56 jiwa) penduduk Dusun Tegalsari, Desa Kayen, Kecamatan Juwangi, Boyolali, Jawa Tengah, sumur masih merupakan barang mewah. Pada musim penghujan, mereka mengandalkan sungai kecil yang selalu mengalirkan air jernih. Tapi, ketika musim kemarau tiba, sungai mengering.

Beruntung, dasar sungai itu masih memungkinkan digali lagi. Maka, warga di sana membuat cekungan-cekungan kecil untuk menampung rembesan air permukaan yang tak seberapa. Dalam satu jam, air jernih yang tersaring alamiah oleh batuan kapur akan terkumpul hingga 25 liter. Dari rembesan itu, mereka bisa memasak dan minum secukupnya. Cuma, untuk urusan mandi, mereka masih sanggup bertahan hingga dua hari tanpa guyuran air jernih nan mahal itu.

Boleh jadi, mereka akan marah bila kelak, tahu bila Si Emas Biru sudah mulai diperdagangkan, menyusul diberlakukannya Undang-undang tentang Sumber Daya Air yang memang memandang air sebagai komoditas baru yang boleh diperdagangkan. Ironis! Sebab tak jauh dari tempat tinggal mereka, air selalu menggenang di Waduk Kedungombo.

Leave a Reply